Nama : Anandhyka Ramadha
Kelas : 7C
PUISI
Pengarang: W.S. Rendra
(dengan tanda baca)
Renungan Indah
Seringkali aku berkata
Ketika semua orang memuja milikku
Bahwa sesungguhnya ini adalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan miliku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
Kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua ”derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas ”perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah
”Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”...........
Semoga bermanfaat...!!!
-----selesai-----
(tanpa tanda baca)
Renungan Indah
Seringkali aku berkata
Ketika semua orang memuja milikku
Bahwa sesungguhnya ini adalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya mengapa Dia menitipkan padaku
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku
Dan kalau bukan miliku apa yang harus kulakukan untuk milikNya itu
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali olehNya
Ketika diminta kembali kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta ingin lebih banyak mobil
lebih banyak popularitas dan
Kutolak sakit kutolak kemiskinan seolah semua derita adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika aku rajin beribadah maka selayaknyalah derita menjauh dariku dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Gusti padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku hanya untuk beribadah
Ketika langit dan bumi bersatu bencana dan keberuntungan sama saja
Semoga bermanfaat
-----selesai-----
PROSA
Renungan Indah
Biasanya aku berkata dan bersyukur ketika semua orang
memuji semua hartaku. Aku sadar bahwa mobilku, rumahku, hartaku dan putraku ini sesungguhnya hanyalah titipanmu ya Allah.
Tapi, mengapa aku tak pernah bertanya:mengapa Allah menitipkan semua ini padaku dan untuk apa ?. Dan kalau ini semua bukan milikmku, apa yang harus aku lakukan untuk milikmu ya Allah. Apakah aku mempunyai hak yang bukan milikku?.
Justru mengapa hatiku terasa berat, ketika semua itu diminta kembali oleh-Nya?. Dan mengapa ketika akan diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka dan kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Namun ketika aku berdoa, aku selalu meminta titipan yang cocok dengan keinginanku dan hawa nafsuku. Ketika Engkau memberi satu aku selalu meminta lebih banyak harta lagi, meminta mobil banyak, meminta pupularitas, meminta dan meminta banyak tiada henti.
Jika Engkau kurangi nikmat mu kepada ku, aku tolak misalnya; sakit, kekurangan, kemiskinan, semua ku tolak, bahwa aku berfikir seolah semua itu adalah ”derita” yang merupakan hukuman bagiku.
Ya..... Allah, seolah keadilan dan kasihMu ya Allah, harus berjalan bagaikan matematika; dihitung dan dihitung; aku rajin shalat, puasa, mengaji, sedekah, aku merasa selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia harus kerap menghampiriku. Aku perlakukan Engkau seolah mitra dagang, dan bukan kekasih. Aku mita Engkau membalas ”perlakukan baikku”, dan menolak keputusanMu yang tak sesuai dengan keinginan dan hawa nafsuku.
Ya..... Allah, ya Robbal ’Alamiin, padahal setiap hari kuucapkan didalam shalat dan sebelum tidur bahwa hidup dan matiku hanya untuk beribadah kepadaMu.
Ingatlah wahai....sahabat-sahabatku bahwa ”Suatu ketika bila langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan akan menjadi sama”...........
------selesai-----
Pesan pengarang:
Sebesar apapun nikmat Allah SWT, hendaknya kita mensyukurinya dengan menuruti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta bekerja dengan tekun. Dan jangan pernah menjadi orang yang takafur. Karena takafur itu adalah sifat yang tidak disukai oleh Allah.
Nama : Anandhyka Ramadha
Kelas : 7C
PUISI
Pengarang: W.S. Rendra
(dengan tanda baca)
Renungan Indah
Seringkali aku berkata
Ketika semua orang memuja milikku
Bahwa sesungguhnya ini adalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan miliku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
Kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua ”derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas ”perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah
”Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”...........
Semoga bermanfaat...!!!
-----selesai-----
(tanpa tanda baca)
Renungan Indah
Seringkali aku berkata
Ketika semua orang memuja milikku
Bahwa sesungguhnya ini adalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya mengapa Dia menitipkan padaku
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku
Dan kalau bukan miliku apa yang harus kulakukan untuk milikNya itu
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali olehNya
Ketika diminta kembali kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta ingin lebih banyak mobil
lebih banyak popularitas dan
Kutolak sakit kutolak kemiskinan seolah semua derita adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika aku rajin beribadah maka selayaknyalah derita menjauh dariku dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Gusti padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku hanya untuk beribadah
Ketika langit dan bumi bersatu bencana dan keberuntungan sama saja
Semoga bermanfaat
-----selesai-----
PROSA
Renungan Indah
Biasanya aku berkata dan bersyukur ketika semua orang
memuji semua hartaku. Aku sadar bahwa mobilku, rumahku, hartaku dan putraku ini sesungguhnya hanyalah titipanmu ya Allah.
Tapi, mengapa aku tak pernah bertanya:mengapa Allah menitipkan semua ini padaku dan untuk apa ?. Dan kalau ini semua bukan milikmku, apa yang harus aku lakukan untuk milikmu ya Allah. Apakah aku mempunyai hak yang bukan milikku?.
Justru mengapa hatiku terasa berat, ketika semua itu diminta kembali oleh-Nya?. Dan mengapa ketika akan diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka dan kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Namun ketika aku berdoa, aku selalu meminta titipan yang cocok dengan keinginanku dan hawa nafsuku. Ketika Engkau memberi satu aku selalu meminta lebih banyak harta lagi, meminta mobil banyak, meminta pupularitas, meminta dan meminta banyak tiada henti.
Jika Engkau kurangi nikmat mu kepada ku, aku tolak misalnya; sakit, kekurangan, kemiskinan, semua ku tolak, bahwa aku berfikir seolah semua itu adalah ”derita” yang merupakan hukuman bagiku.
Ya..... Allah, seolah keadilan dan kasihMu ya Allah, harus berjalan bagaikan matematika; dihitung dan dihitung; aku rajin shalat, puasa, mengaji, sedekah, aku merasa selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia harus kerap menghampiriku. Aku perlakukan Engkau seolah mitra dagang, dan bukan kekasih. Aku mita Engkau membalas ”perlakukan baikku”, dan menolak keputusanMu yang tak sesuai dengan keinginan dan hawa nafsuku.
Ya..... Allah, ya Robbal ’Alamiin, padahal setiap hari kuucapkan didalam shalat dan sebelum tidur bahwa hidup dan matiku hanya untuk beribadah kepadaMu.
Ingatlah wahai....sahabat-sahabatku bahwa ”Suatu ketika bila langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan akan menjadi sama”...........
------selesai-----
Pesan pengarang:
Sebesar apapun nikmat Allah SWT, hendaknya kita mensyukurinya dengan menuruti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta bekerja dengan tekun. Dan jangan pernah menjadi orang yang takafur. Karena takafur itu adalah sifat yang tidak disukai oleh Allah.
(Prosa)
renungan Indah
Ini adalah cerita tentang kehidupanku. Seringkali aku berkata Alhamdulilah ketka semua orang memuja milikmu.Dan aku berpikir bahwa
Senin, 24 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar